Jika
jatuh cinta pada pandangan pertama itu benar-benar ada, maka
bertahun-tahun yang lalu aku telah sukses dibuat jatuh cinta pada saat
mata ini pertama kali menatapnya.
Dialah satu-satunya orang yang untuk
beberapa waktu membuatku lupa akan pria berkacamata dan berkumis tipis
(tegetebete) yang kusuka mati-matian (bahkan sampai sekarang).
Beberapa
hari yang lalu aku diberi kesempatan menatap matanya lagi. Setelah
sekian lama aku hanya berkemampuan meliriknya di jendela maya. Saat itu
kita juga sempat berjabat tangan.
“Maafin gue ya.” Itu katamu. Aku baru sadar, ini pertama kali aku bertemu dengannya selepas libur hari raya.
Anehnya,
ketika aku dan dia saling melempar senyum dan saat tangan kita
bersentuhan, aku sudah tak merasa deg-degan lagi, aku tak gugup lagi,
dan kakiku tak gemetar lagi.
Apa yang terjadi, apa telah terjadi
evaporasi dengan perasaanku untuknya hingga ke stratosfer dan tak
bersisa sedikitpun untuk membuatku kuat menunggunya lebih lama lagi?
Apa sekarang aku telah menyerah pada waktu?
Apa aku telah menyerah pada keadaan?
Menyerah pada ketidakmampuanku sendiri?
Kenyataannya,
aku memang telah memutuskan untuk menyerah pada takdir. Takdir bahwa
kau telah memilih jalan bahagiamu sendiri bersamanya.
Aku bersyukur. Terima kasih Tuhan, Kau telah membuatku tak seperti orang gila lagi saat tangan itu kujabat dan mata itu kutatap. :)
Hampir
seluruh populasi di semesta ini ku yakin akan sependapat jika menunggu
itu ialah sesuatu yang membosankan dan terlebih lagi.. membuang-buang
waktu.
Aku selalu setuju dengan pernyataan itu. Terlebih jika hal yang kita tunggu itu ialah sesuatu yang kurang pasti. Maksudnya tidak pasti sama sekali.
Lalu apa kabarnya dengan waktu yang kugunakan untuk menunggu seorang tegetebete? Terlalu banyak waktu terbuang.
Hampir 3 tahun, itu artinya hampir 1000 malam kugunakan untuk menunggu perasaannya, perasaan si kacamata, perasaan si kumis tipis, dan perasaan.. si pacar orang itu. ._.
Jujur aku tak pernah tau sampai kapan. Sejauh ini sepertinya hanya angin yang menjembatani perasaanku untuknya. Mungkin sampai waktu yang Tuhan beri untukku habis. Entahlah, semua jawabannya jauh lebih kasat mata dari angin yang masih bisa dirasakan.
Bogor, 22 Juni 2011
Disebuah kamar berukuran 4x3 m dengan keadaan hati yang jauh lebih temaram dari terangnya lampu kamar.
Aku selalu setuju dengan pernyataan itu. Terlebih jika hal yang kita tunggu itu ialah sesuatu yang kurang pasti. Maksudnya tidak pasti sama sekali.
Lalu apa kabarnya dengan waktu yang kugunakan untuk menunggu seorang tegetebete? Terlalu banyak waktu terbuang.
Hampir 3 tahun, itu artinya hampir 1000 malam kugunakan untuk menunggu perasaannya, perasaan si kacamata, perasaan si kumis tipis, dan perasaan.. si pacar orang itu. ._.
Jujur aku tak pernah tau sampai kapan. Sejauh ini sepertinya hanya angin yang menjembatani perasaanku untuknya. Mungkin sampai waktu yang Tuhan beri untukku habis. Entahlah, semua jawabannya jauh lebih kasat mata dari angin yang masih bisa dirasakan.
Bogor, 22 Juni 2011
Disebuah kamar berukuran 4x3 m dengan keadaan hati yang jauh lebih temaram dari terangnya lampu kamar.
![]() |
sumber: di sini |
Akan kuceritakan pada semesta bagaimana perasaanku ketika mendengar tawa ringannya. Serasa beban masalah hilang, terbang dibawa burung-burung kecil yang seakan tak pernah kehabisan bahan bakar. Menjauh dan tak pernah kembali.
Tentang semua perasaanku ini hanya Tuhan dan aku yang tahu. Membaginya pada orang lain bukanlah jalan yang akan aku pilih.
Meskipun aku tahu dia tak pernah diciptakan untukku, dan dia tak pernah tahu betapa berartinya dia untukku. Aku berterima kasih karena Tuhan telah menciptakan dia di sini, di dekatku. Setidaknya sampai saat ini.
Izinkan aku sekali saja mencium pipinya yang memerah saat terusap sinar matahari.
Izinkan aku sekali saja memeluknya di bawah hujan ringan dan membuat semua orang iri.
Dan izinkan aku untuk selalu dapat menggenggam tangannya jika suatu saat dunia tak berjalan searah dengannya.
Jika semua itu tak akan pernah diizinkan, maka izinkan aku untuk... melupakannya saja.
![]() |
sumber: di sini |
24 bulan sudah aku suka kamu
24 bulan sudah kamu tak pernah tahu jika di semesta ini ada aku yang suka kamu
24 bulan sudah perasaan yang tak pernah berkorelasi ini aku pendam
Ini Mei ketiga di mana aku masih punya perasaan yang sama sejak pertama kali kamu membuat hati ini jatuh.
Seandainya kamu tahu, sejak pertama kali jantungku bereaksi, rasa ini, rasa yang aku punya ini, rasa yang selalu kupendam ini, hingga detik di mana aku membuat tulisan ini, kadarnya tak pernah berkurang.
Selalu sama, bahkan mungkin bertambah.
Satu hal yang ingin aku beritahu pada dunia adalah aku akan selalu sayang kamu. Entah suatu hari nanti kamu akan tahu atau mungkin tak akan pernah.
![]() |
source: here |
Disaat mata kita bertemu, nafas kita menyatu, dan tangan kita bersentuhan, aku tahu, kamu tak pernah merasakan apa-apa.
Haruskah aku berteriak bahwa aku sayang kamu?
Haruskah aku berteriak bahwa aku benar-benar sayang kamu?
Tidak harus rupanya.
Aku tak ingin telingamu yang mendengar luapan perasaan ini, aku hanya ingin hatimu yang merasakan. Rasakanlah, betapa dalam dan tanpa balas cinta yang aku punya ini sayang.
Pada akhirnya aku akan terus berusaha mencari persinggahan yang tepat untuk perasaan ini. Aku yakin suatu hari pasti akan aku temukan.
Bila itu bukan kamu, yang aku percaya hidup ini tak pernah mengenal kata sia-sia. Begitupun dengan mencintaimu.
Dulu begitu cepat halaman demi halaman yang awalnya kosong kuisi dengan kata-kata indah tentang kamu.
Sekarang, entah apa yang terjadi.
Kertas kosong berwarna putih itu terlihat telah mulai menguning, menunggu aku yang tak kunjung menumpahkan tinta di atasnya.
Jika terlalu lelah menunggu, ku yakin kertas kosong itu akan menerima pinangan angin, terbang, meninggalkan aku dengan pena yang membeku di antara ruas-ruas jari.
Jujur, saat ini kepingan perasaanku untukmu mulai tercecer satu persatu, tanpa ada satu hal yang bisa kulakukan untuk mencegahnya.
.. Biar aku menepi
Bukan lelah menanti
Namun apalah artinya
Cinta pada bayangan ..
Sekarang, entah apa yang terjadi.
Kertas kosong berwarna putih itu terlihat telah mulai menguning, menunggu aku yang tak kunjung menumpahkan tinta di atasnya.
Jika terlalu lelah menunggu, ku yakin kertas kosong itu akan menerima pinangan angin, terbang, meninggalkan aku dengan pena yang membeku di antara ruas-ruas jari.
Jujur, saat ini kepingan perasaanku untukmu mulai tercecer satu persatu, tanpa ada satu hal yang bisa kulakukan untuk mencegahnya.
.. Biar aku menepi
Bukan lelah menanti
Namun apalah artinya
Cinta pada bayangan ..
![]() |
source: here |
Meskipun dengan menulis di blog ini kerinduan ku tak sepenuhnya terobati, akan tetapi aku merasakan ada sedikit ruang di sesaknya hati dan pikiranku. Jadi marilah kita tuliskan kerinduan ini.
Aku..
Rindu Bogor,
Rindu teman-teman,
Rindu aktifitas kampus, dan
Rindu kamu.
Kamu yang ku kenal 18 bulan yang lalu,
Kamu yang rajin
Kamu yang berkacamata, dan
Kamu yang... pacar orang. :)
Aku tahu ada kesan sedikit tak pantas untuk jenis rindu yang terakhir, sebaiknya tak ku pelihara terlalu lama. Semoga kau merasakan sedikit rindu yang kurasakan.
Langganan:
Postingan (Atom)